Sebuah Kisah yang Tak Pernah Usai


sunrise.gif

(www.sodahead.com)

Ini adalah sebuah kisah yang tak pernah usai, kisah tentang sebuah pencarian. Tentang seorang perempuan yang mempercepat langkah kakinya karena terlambat sampai di lokasi dimana ia ditugaskan.

Perempuan itu terlambat datang karena banyak kejadian-kejadian yang unpredictable. Dalam rundown tertulis pukul 06.00 acara tersebut dimulai, perempuan itu tiba 15 menit kemudian. Langkah kakinya lebih diperbesar lagi dan akhirnya dia melihat rombongan yang menjadi subyek dalam framenya nanti.

Matahari sudah tinggi, sekitar 45 derajat, minggu itu udara cukup hangat karena tidak ada polusi dari asap kendaraan pada hari minggu pagi, namun perempuan itu harus berbagi oksigen dengan puluhan ribu orang yang ada.

Berkali-kali perempuan itu melihat melalui viewfinder melihat momen yang bagus sekaligus berfikir untuk membuat komposisi yang tepat, tak jarang perempuan itu tersenyum bahkan tertawa geli melihat hasil jepretannya, keunikan, senyuman dan semangat 45 dari peserta membuat perempuan itu tidak merasa lelah sudah berjalan 5 km.

“Ayo yang merasa masih muda ayo lari, ayo lari bareng saya, semangat dong larinya yang putih! Jangan kalah sama kakek-kakek” perempuan itu melihat seorang lelaki yang sudah berumur berkaos merah mengatakan itu pada peserta yang masih muda dan berkaos putih

Perempuan itu tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya menuju garis finish sembari mengabadikan momen dengan kameranya, banyak kejadian lucu yang terjadi selama perjalanan, perempuan itu sempat dikira sebagai peserta oleh panitia karena mengenakan t-shirt berwarna putih, seperti peserta lainnya.

Tidak sedikit perempuan itu menangkap momen peserta yang saling menyemangati antar peserta lain, kenal atau tidak kenal, teriakan demi teriakan penyemangat sering dilantangkan oleh peserta lain yang mellihat peserta berkaos merah lari dengan membawa bendera merah putih.

Perempuan itu sempat merinding melihat semangat nasionalisme para peserta yang mendedikasikan setiap langkahnya untuk Negara ini, Indonesia.

Garis finish sudah lumayan dekat, perempuan itu bukan mempercepat langkah kakinya tapi malah memperlambat, kakinya sempat sakit dan sekarang harus ikut berjalan membuat kakinya sakit kembali, perempuan itu tidak mengistirahatkan tubuhnya karena melihat peserta lain saja bermandikan keringat tidak ada yang mengeluh, kecuali anak kecil yang ikut menjadi peserta bersama kedua orangtuanya yang merengek-rengek ingin pulang karena tidak sanggup lagi berlari

Adegan yang cukup membuat simpul pada bibir perempuan itu yang tadinya kesakitan menjadi tersenyum kembali, dan ia kembali berjalan dan melanjutkan tugasnya.

Ternyata mendekati garis finish, perempuan itu melihaat banyak peserta yang duduk di trotoar hanya untuk mengistirahatkan kakinya ataupun meneguk minuman yang diberikan panitia, jalanan pada saat itu sungguh kotor dan basah, kotor akibat gelas-gelas air mineral yang dibuang peserta, memang, salah panitia juga tidak menyediakan tempat sampah disana.

Langkah perempuan itu kembali diperlambat, sesekali ia melihat kebelakang untuk berjalan di kanan jalan, dan dalam tengokan kebelakang itu ia sempat berfikir. seperti ada yang ia kenal, dan perempuan itu kembali menengok kebelakang untuk kedua kalinya dan ini agak lama, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi ataupun berhalusinasi. Lelaki berkaos merah itu melihatnya, dan…. jantung perempuan itu sempat berhenti saat mengetahui bahwa lelaki itu benar-benar ada, bukan bayangan atau halusinasinya saja. Lelaki itu berada kurang dari satu meter jaraknya dengan perempuan itu.

Sebelumnya dimalam hari, perempuan itu sempat bicara sendiri “besok kita ketemu ya… kalau jodoh” bukan, bukan sebuah harapan ingin bertemu, perempuan itu juga hanya bicara sendiri, tidak mungkin juga bisa bertemu, gumam perempuan itu. Namun, siapa sangka? kita boleh saja berencana, tapi tetap Tuhan yang menentukan. dan apa yang selanjutnya terjadi setelah pertemuan tidak disengaja itu? dari sekian puluh ribu orang, perempuan dan lelaki itu dipertemukan tanpa adanya sebuah “janjian” dalam pertemuan singkat itu.

Perempuan itu sempat menghentikan langkahnya sesaat setelah lelaki itu meneruskan langkahnya menuju garis finish, pikirannya kacau, ia sempat ditabrak pelari dibelakangnya, memang itu salahnya yang tidak fokus.

Perjalanan menuju finish terasa begitu cepat dan ringan, perempuan itu hampir lupa tujuannya kesana untuk apa. Dan semua terjadi begitu cepat, ia sudah melihat garis finish-nya dan perempuan itu tiba di garis finish bersama peserta-peserta lain yang terlihat sumringah walaupun jarak yang ditempuh cukup menguras energi dan keringat yang mengucuri tubuh mereka.

Garish finish sudah dilewati, rasa lelah yang tadi tersamarkan kembali menyeruak dalam diri perempuan itu, terlebih lagi ia belum mengisi perutnya dengan sarapan. ia duduk di pinggiran trotoar bersama peserta lain yang juga terlihat sangat lelah, entah mengapa perempuan itu kembali mengingat best moment tadi, lalu menyerngitkan alisnya ketika lelaki yang ia lihat tadi melintas di depannya. Kali ini ia hanya tersenyum, tidak berharap apapun, wajahnya terlihat berbeda, rasanya memang berbeda dulu dan kini.

Tidak perlu membuat alasan yang sulit untuk bisa terus ke depan sambil melihat ke belakang, keadaan dan waktu akan menjadi alasan yang cukup untuk membuktikannya.

Ini adalah sebuah kisah yang tak pernah usai, kisah seorang perempuan yang belajar mulai dari menunggu, berjalan, berlari lalu meninggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s