Secangkir Kopi dan Sepotong Senja


4537472965_58ebc807e5

Aroma petrichor dan derasnya hujan membuatku ingin cepat-cepat melajukan motor menuju kedai kopi langgananku. Suasana yang sangat tepat untuk minum secangkir kopi dan menikmatinya.

Sesampainya di kedai itu, aku melihat seorang wanita yang sibuk dengan laptopnya dan sesekali menyeruput kopi, cantik. Berwajah oval berkulit kuning langsat dan berambut panjang, mengenakan flannel dengan celana jeans dan sepatu converse. Selalu cantik.

Wanita itu selalu ada di kedai tersebut setiap sore hari menjelang senja, menurutnya senja di kedai itu terlihat lebih indah dibandingkan tempat lainnya.

Aku mengenalnya juga tidak disengaja, saat aku pulang kuliah dan ingin mengerjakan tugas, sambil di jalan mencari-cari tempat yang pas lalu kedai kopi itu mengalihkan pandanganku.

Aku memesan samoa frappuccino, perpaduan antara kelapa dan moka frappuccino dengan siraman saus karamel, serta dibalut dengan whipcream. Sedangkan wanita itu memesan espresso.
Saat itu, pesanan kami tertukar dan aku lupa bagaimana kelanjutannya tiba-tiba saja kami berkenalan.

Dan sudah 5 bulan kami dekat, karena kami berdua adalah coffee addict, selalu asyik dan nyambung mengobrol dengannya.

Aku suka dengannya sejak pertama kali bertemu, iya saat tragedi pesanan kami tertukar itu, ternyata dia kuliah jurusan komunikasi dan aku juga. Banyak kesamaan antara kita membuat aku bisa jauh mengenalnya, ya mungkin jaman sekarang orang-orang bilang tragedi itu adalah sebuah “modus” tapi itu benar-benar tidak disengaja.

Wanita itu selalu datang ke kedai kopi sendirian, aku berasumsi bahwa dia itu single, makanya aku selalu berusaha mendekatinya. Namun dia pernah berkata padaku, kalau kami jodoh pasti akan bertemu di garis finish. Aku menyerngitkan dahi, menebak apa yang sedang ia pikirkan. Wanita ini selalu membuatku penasaran, ia mengatakan sesuatu untuk menyembunyikan sesuatu yang lain. Rumit memang.

Tapi memang aku akui, bersama dia selalu membuatku nyaman, tidak seperti wanita lainnya yang suka jalan ke mall dan menghabiskan uang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka gunakan.

Dia adalah partner minum kopi terbaik dan menurutnya aku adalah partner penikmat senja terbaik. Cocok, pikirku.

Tapi ketika aku mengungkapkan perasaanku padanya, dia hanya tersenyum, aku sama sekali tidak bisa membaca pikirannya. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu pernah menemukan pasangan sekompak kita?”
Aku diam, bingung.
“Kan kamu bilang, aku ini partner terbaikmu minum kopi. Dan kamu itu partner terbaikku menikmati senja, pas kan?” dia tersenyum.
Aku mencoba menebaknya “Maksudnya kamu mau jadi partner dalam hidupku?”
“Siapa bilang? Aku cuma bilang kalau kita itu cocok untuk menikmati kebiasaan-kebiasaan yang kita suka dalam hidup kita, bukannya aku mau jadi partner hidup kamu” dia tertawa geli.

Aku terdiam. Senja sore itu terlihat seperti menertawakanku, aku tidak mengerti maksudnya. Mungkin dia menolakku. Raut wajahku berubah, aku memandangi cangkir kopiku. Apakah kisah ini hanya sampai disini?

Aku melihat wajah wanita itu dalam-dalam, seakan dia ingin mengatakan sesuatu.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengecewakanmu, tapi mungkin aku tidak bisa menjadi partner minum kopi terbaikmu lagi. Kamu masih ingat kan? ‘kalau kita jodoh, kita akan bertemu di garis finish’. Dan sesungguhnya aku ingin sekali bertemu denganmu di garis finish itu”
“Lalu masalahnya apa?” aku terus menanyakan alasan
“Aku tidak bisa menjelaskannya, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi pertner penikmat senja terbaikku, walaupun aku sudah tidak bisa menjadi partner minum kopimu lagi, sampai jumpa di garis finish ya partner terbaikku” dia pergi meninggalkan tanda tanya yang besar di dalam diriku.

Malam itu aku tidak bisa tidur karena ucapan wanita itu, dan aku paksakan diriku untuk memejamkan mataku hingga tertidur.

***

Keesokkan harinya kedai kopi itu terasa asing bagiku, tidak ada wanita yang sibuk dengan laptopnya sambil sesekali menyeruput espresso-nya. Begitu seterusnya hingga pelayan di kedai kopi itu mendekatiku
“Mas yang sering minum kopi sama perempuan yang tiap sore itu kan?”
“Iya, dia kemana ya?” aku penasaran
“Dia itu sakit, Mas, dia pernah bilang usianya itu gak lama lagi, makanya dia selalu menikmati senja disini sambil menunggu waktunya. Semenjak bertemu sama Mas, dia terlihat lebih sehat dan bahagia, Mas” pelayan itu cerita dengan serius.
“Mas tau sekarang dia di mana?” aku takut terlambat.

Pelayan itu menuliskan alamat pada secarik kertas dan memberikannya padaku. Dan aku bergegas menuju alamat yang dituliskannya.

***

Aku tidak percaya. Seorang partner minum kopi terbaikku terbujur kaku dengan banyak sekali alat ditubuhnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa aku sebodoh ini tidak bisa menjaga wanita yang aku cintai. Dia bisa membuat aku bahagia bersamanya, tapi kenapa aku tidak bisa? Air mataku mengalir membasahi pipi juga perasaanku. Aku merasa tidak pantas untuknya.

“Kamu yang namanya Vino?” tanya seorang Ibu wanita itu

“I.. iya” aku menjawabnya dengan terbata-bata

“Jenny banyak cerita tentang kamu, dan setelah mengenal kamu, kondisi Jenny benar-benar pulih, dia juga cerita kalau kamu satu-satunya lelaki paling seru untuk diajak menikmati senja, tapi dia takut kalau kamu cinta dia” Air mata Ibunya mulai mengalir deras.

“Takut? kenapa takut?” tanyaku

“Dia takut kalau nanti dia akan mengecewakanmu, karena dia tau usianya tidak panjang”

Deg! Aku seperti ditabrak sebuah truk besar, aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa dirinya, tanpa partner minum kopi terbaikku.

***

Pagi itu aku terbangun dengan keringat yang mengalir deras dari tubuhku. Aku mimpi buruk!!

Siang itu aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah dan aku bergegas menuju kedai kopi untuk memastikan.

Aku sampai di kedai pukul 15.00 lebih cepat 2 jam dari biasanya. Aku tidak melihat wanita yang sibuk dengan laptopnya itu, perasaanku tidak enak. Aku mondar-mandir di depan sambil sesekali melihat ke langit, senja hampir tiba. Tapi dimana wanita itu?! Aku mulai panik dan takut.

Jam tanganku menunjukkan pukul 17.45 ah tidak biasanya dia terlambat datang, aku kembali duduk menunduk dan pikiranku kacau sore itu.

Dari kejauhan aku mendengar suara hentakan kaki yang terburu-buru.

“Hai partner terbaikku!!!”

Suaranya tidak asing, aroma parfumnya aku kenal, dan aku menoleh ke asal suara itu.

“JENNY?!” aku reflect teriak dan memeluk wanita itu seerat mungkin, memastikan bahwa ia benar-benar wanita partner minum kopi terbaikku.

“Aduh Vino!! Aku gak bisa napas!”

Akhirnya wanita itu benar-benar partner terbaikku, dia baik-baik saja, wajahnya kesal karena aku peluk terlalu erat.

“Ah kamu memang wanitaku!” sambil ku peluk lagi wanita itu, kali ini dengan kasih sayang

“Kamu kenapa sih?”

Aku tidak melepaskan pelukan yang hangat itu, dan menjawab pertanyaannya hanya dengan

“Aku cinta kamu”

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s