Sementara Itu… [Part 1]


Terik matahari perlahan redup oleh awan hitam yang berkumpul tepat diatas kepala. Aroma tanah basah menjadi santapan lezat bagi indera penciuman yang lama tak menghirup aroma petrichor sejak musim kemarau yang berkepanjangan. Sebuah simpul senyuman terlihat menghiasi wajah perempuan itu, perempuan yang selalu menunggu datangnya senja.

rain

sumber: tumblr

Ia menengadah ke langit, rintik air membasahi wajahnya, dengan segera ia berteduh. Hujan-pun turun dengan deras. Hujan selalu punya cara bagaimana menemani jiwa-jiwa yang rindu.

Kali ini ia salah, perempuan itu meramalkan sore ini akan cerah dan dapat bertemu dengan senja, namun ramalannya meleset pada hari itu. Ia melangkah dengan irama yang cepat, tidak berlari, hanya mempercepat.

Ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya di dalam tas. Tidak ada identitas penelepon. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kelas, dan mengabaikan ponselnya itu.

Lorong kelas sepi, hanya ada beberapa orang yang mengobrol di depan kelas.  Perempuan itu tidak mempercepat langkahnya tapi justru memperlambat karena suara dering ponselnya yang mengganggu. Tidak ada identitas. Panggilan itu diabaikannya.

 Dari kejauhan perempuan itu melihat seseorang yang tidak asing, ia memicingkan matanya, memastikan siapa orang yang dia lihat itu.

Seorang lelaki berkaus abu-abu yang mengenakan ransel hitam di punggung dan mengalungkan tangannya pada lutut sambil sibuk memainkan ponselnya dengan wajah serius, dan ketika suara hentakan sepatu perempuan itu semakin dekat, lelaki itu melirik dengan tajam membuat si perempuan juga melihatnya. Kedua pasang bola mata mereka membuat garis lurus dan bertemu di satu titik, lalu keduanya memalingkan wajah.

*Deg!*

Itu Senja…

Perempuan itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, lelaki yang ia lihat itu nyata atau hanya ilusi belaka?

Ia tidak mengira akan bertemu dengan Senja seperti ini, ketika hujan turun dengan derasnya. Mungkin benar, setelah derasnya hujan akan membuat birunya langit bergradasi dengan merah dan jingga. Indah.

Pertemuan ini yang kesekian kalinya, dan masih sama seperti yang sudah-sudah. Mereka sama-sama belum saling mengenal.

Sementara itu…

Ada seseorang yang memergoki mereka, sepertinya banyak yang cemburu dengan mereka berdua, tapi Tuhan berkata lain, setelah pertemuan singkat tadi, matahari kembali menampakkan wujudnya bersama awan-awan yang berwarna merah dan jingga diatas langit biru ke-kuning-an. Semesta sepertinya ikut bahagia, seperti perempuan itu.

Ternyata ramalan perempuan itu benar, hujan deras bukan berarti senja tidak muncul, terkadang untuk memperoleh sesuatu yang indah harus ada sedikit pengorbanan. Disini perempuan itu harus basah dulu baru bisa bertemu dengan senja dan Senja. Double. Bahagia itu sederhana, se-sederhana perempuan itu bertemu dengan Senja

Perasaan itu memang sulit untuk ditahan, tapi jika semua terasa lebih baik dan menyenangkan kenapa harus repot memikirkannya.

Hidup ini pilihan, ketika dihadapkan dengan dua buah pilihan dan keduanya sulit untuk dipilih, kenapa harus pusing? selalu ada pilihan ketiga. Buat dirimu bahagia.

Sementara itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s