Sementara itu… [Part2]


mendung

Di Sore yang lain ketika perempuan itu memasan secangkir kopi, lagi-lagi awan hitam kembali hadir menjadi penghalangnya melihat langit sore. Hujan. Hujan. Dan hujan. Seolah perempuan itu memiliki telepati dengan datangnya hujan, ia tidak terlalu berharap bertemu dengan senja kala itu, karena pikirannya sedang tidak seperti biasanya.

Ada banyak sekali yang ia pikirkan saat itu, air mukanya terlihat penuh dengan masalah. Tidak biasanya dia murung, secangkir kopi dan hujan menemaninya sore itu, bola matanya sangat fokus melihat tetes demi tetes air hujan yang jatuh ke tanah dan membuat sebuah genangan air yang cukup lebar.

Perempuan itu memikirkan bagaimana jika ia diciptakan menjadi hujan, ada sebagian yang senang dengan kehadiranya namun tidak sedikit pula yang akan membencinya. Tapi tetap saja hujan itu selalu dinanti oleh orang-orang yang sedang merindu. Hujan itu menenangkan jika datangnya diwaktu yang tepat, dan bisa juga merugikan diwaktu yang lain.

Pikiran perempuan itu mulai bercabang, jika banyak orang yang mengalami kekeringan sedangkan ada beberapa orang yang kebanjiran, lalu dia yang selalu ingin melihat senja muncul di cakrawala. Terkadang setiap orang memiliki egonya masing-masing tanpa mencoba memahami apa yang terjadi di luar sana. Ah ini pikirannya terlalu jauh dan mulai ngelantur.

Hujan masih saja setia menemaninya yang duduk sendiri sambil memegang cangkir dengan kedua tangannya, seperti memeluk untuk menghangatkan tangannya yang dingin.

Seseorang memakaikan jaket ke tubuh perempuan yang mulai menggigil kedinginan itu. Perempuan itu sontak terkejut melihat sesosok lelaki yang datang tiba-tiba itu. Senja..

Ahh bukan! Itu temannya. Sepertinya perempuan itu terlalu banyak berpikir dan melamun sampai-sampai semua yang dia lihat itu sebagai senja. Perlahan isi cangkir kopinya mulai kosong dan hujanpun mulai reda, perempuan itu menghabiskan sore hari bersama temannya.

Sementara itu… Sesosok lelaki berjalan di depan meja perempuan itu sembari meninggalkan kedai kecil tersebut. Dan perempuan itu menyadarinya sambil bicara dalam hati.

“Ehh, itu Senja kan?”

“Ah tapi gak mungkin.”

“Pasti aku salah lihat lagi nih”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s