Sementara Itu… [Part 3]


foto: fiksi.kompasiana.com

foto: fiksi.kompasiana.com

Hari ini langit sedang tidak bersahabat, perempuan itu sepertinya sudah mulai akrab dengan awan hitam, langit mendung, dan… hujan.

Iya, akhir-akhir ini hujan sering menjadi tembok besar yang menghalangi perempuan itu bertemu dengan senja. Iya, Senja.

Kali ini hujan datang tanpa permisi dan perempuan itu seperti dengan sengaja menunggu hujan, ia menganggap hujan tau apa yang sedang dirasakannya. Memang, hujan itu bisa menjadi teman tapi tak jarang bisa jadi bumerang sendiri.

Perempuan yang selalu ceria itu kini berubah. Hari-harinya menjadi mendung, sudah lama ia tidak melihat Senja. Secangkir kopi selalu menemaninya kala ia bertemu dengan Senja, tapi tidak sesering dulu. Kini hujanlah yang selalu menemaninya.

***

Sepertinya aku mulai suka dengan Hujan.

Senja memang selalu ada dan selalu membuatku bahagia, tapi… hujan ini selalu ada ketika aku rindu. Rindu dengan kamu, Senja.

Hujan pula yang selalu memudarkan air mataku yang membasahi pipi dengan bulir airnya yang tersamar dengan air mata. Hujan juga selalu menemaniku di balik jendela, dengan seiring turunnya tetes demi tetes air hujan di kaca jendela, kadang juga memancing bersatunya dengan tetesan lainnya. Pikiran ini melayang membayangkan orang yang aku peduliin. Ahh! lagi-lagi orang itu kamu, Senja!

Hujan selalu punya cerita…

Saat hujan datang, seolah-olah semua pikiran yang sudah lama terkubur perlahan menjadi terngiang-ngiang dan entah mengapa hal itu yang selalu muncul ketika hujan tiba. Atau ketika hujan datang, hal-hal kecil yang ada di sekitar menjadi sesuatu yang dipikirkan.

Selalu ada yang bisa aku ceritakan dengan hujan, dan ketika orang-orang di luar sana terjebak dalam kenangan ketika hujan tiba, aku bersyukur, bersyukur aku tidak sedang berada di luar.

Tapi aku pernah bermain dengan hujan, sudah lama, ketika aku baru dekat dengan senja. Walaupun hujan itu dingin, entah mengapa aku nyaman berada di tengah-tengah bulir tetesan hujan. Aku rindu melakukan hal itu. Aku merasa beban di pundakku jatuh jika memeluk hujan.

Dulu, aku pernah melihat Senja begitu gagah setelah datangnya hujan. Kini jarang sekali, hujan selalu mendominasi datang ketimbang senja.

Aku takut…

Aku takut ini terjadi selamanya, aku takut tidak bisa bertemu dengan senja lagi, aku takut tidak bisa merasakan hangat peluknya, aku takut tidak bisa ceria seperti saat bersama dengan senja.

Saat ini hujan memang menjadi teman yang asik jika kau tak ada,  aku takut rasa ini berubah ketika hujan selalu ada ketika aku sendiri tanpamu. Dan aku pernah melihat kalimat ini

kataSemoga itu tidak benar-benar terjadi pada kita. Aku, Senja, dan Hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s