Everything Has Changed


All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn’t before.
And all I’ve seen since eighteen hours ago
Is green eyes and freckles and your smile
In the back of my mind making me feel like

Suasana kedai kopi favoritku masih sama seperti terakhir kali aku kesana, kurang lebih setengah tahun lalu. Entah mengapa tempat ini begitu menyenangkan untuk “me time”, aku bisa mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan saat bersama orang lain.

Kedai dengan ornamen meja kayu berwarna coklat tua dan sofa empuk berwarna senada juga lampu gantung yang redup memberi kesan hangat dan nyaman bagi setiap pelanggan yang meluangkan waktunya ditempat ini. Ditambah dengan hiasan dinding yang bertema kopi serasa berada di rumah sendiri.

Menunggu Cappuccino pesananku, jemari tanganku lincah menari di atas keyboard laptop mencoba membuat sebuah tulisan yang akan masuk folder “Secret Folder”. Entah mengapa kubuat folder itu, yang jelas semua tulisanku dalam folder itu adalah semua kisah yang sengaja disembunyikan.

‘Cause all I know is we said, “Hello.”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

Sebuah bait lagu tiba-tiba terdengar tak asing di telinga dan membuatku melamun mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat sebuah sapaan sederhana dapat merubah segalanya. Iya, aku ingat saat pertama dia mengatakan “hallo” padaku. Biasa saja. Tapi frekuensi sapaan itu terus meningkat dan selanjutnya menjadi hal yang biasa untukku.

Jatuh cinta diam-diam. Terluka diam-diam.

Aku punya keahlian yang tidak bisa dibanggakan, yaitu jatuh cinta dalam diam. Tak ada yang hebat dari keahlianku itu, hanya satu, aku mudah sekali bahagia ketika melihat sosoknya. Resikonya? Tentu saja ada. Terluka diam-diam. Mungkin tidak ada yang lebih sakit daripada sakit diam-diam.

Pikiran dan hati yang labil saat setengah tahun lalu membuatku belajar, semua harus berubah. Pilihan memang, berubah menjadi lebih baik ataupun lebih buruk tergantung bagaimana kita. Dia yang selalu menyapaku atau dia yang ketika melihatnya-pun aku bahagia adalah cerita berbeda.

Senja tujuh bulan lalu lebih indah daripada akhir-akhir ini. Setelah tujuh bulan itu, aku tidak melihat lagi senja yang tidak pernah mengecewakan, senja yang selalu membuat penantianku tidak sia-sia. Tapi segalanya berubah.

Kopi pesananku datang membuat pecah lamunanku. Dan yang kudapat? Jemari tanganku sudah membuat sebuah tulisan baru yang siap masuk folder dalam laptopku.

Ku seruput kopi yang rasanya sangat dirindukan. Aromanya mengingatkanku untuk membuka sebuah situs website sembari membuka media sosial. Satu foto terlihat di timeline dan ternyata senjaku kembali. Kembali membuatku terluka diam-diam. Tidak tau apa yang aku rasakan saat itu, ya sebut saja semua itu kenangan. Karna sekarang aku mencoba membuka hati.

Dari sapaan sederhana, basa-basi menanyakan cuaca, lagu Taylor Swift sepertinya sangat pas dengan kondisi saat ini. Alur yang maju mundur kadang dianggap berbeda. Sedih, terluka, sakit diam-diam sudah sering kurasakan, mungkin kini dia yang dapat mengubah semuanya. Tingkah konyolnya, polosnya, ngeselinnya, ke-kanak-annya, kecerobohannya, sedikit perhatiannya perlahan membuatku sadar akan arti sebuah perubahan.

Iya, Everything Has Changed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s