Sepotong Senja dan Hati Yang Retak


 senja nidasFoto: Nida Sahara


Rabu lalu, senja merona begitu merahnya, aku lihat dari luar jendela ada tiga orang yang duduk di kursi tempatku biasa duduk. Kali ini aku masuk kedai kopi berdua dengan teman, tidak biasanya kali ini dia yang mengajakku. Karna ada yang menempati tempat favoritku di dekat jendela, aku tak bisa melihat senja yang sedang merona, menggoda semua yang melihatnya.

Entah kenapa aku fokus ke arah orang-orang yang duduk di dekat jendela. Tidak lama siluet seseorang yang familiar perlahan masuk, terlihat sedang mencari sesuatu. Ketika mataku mencari fokus ke wajahnya, dia.. Senja. Aku beberapa minggu ini sering sekali melihatnya, bukan sengaja melihatnya tapi seperti dia yang tiba-tiba hadir di hadapan. Degup jantung ini seketika mempercepat kerjanya. Mata seakan enggan untuk berkedip, tetap melihatnya.

Ada yang berbeda dari tampilannya, kini di atas bibirnya tumbuh rambut-rambut halus yang membuatnya terlihat, ehm menggoda. Rambutnya yang menjuntai ke pelipis seakan minta untuk dirapikan. Aku terpesona untuk beberapa menit, sebelum dia mendekati tiga orang yang duduk dekat jendela. Dua perempuan dan satu laki-laki, tidak mau berpikir negatif, aku masih melihat ke arahnya. Temanku memesan green tea dan aku memesan cappuccino serta sepotong cake berwarna jingga seperti senja. Setelah memperhatikanku, dan ternyata dia kenal dengan salah satu perempuan yang ada di sana. Perasaanku mulai tidak karuan, sambil masih memperhatikan mereka.

“Kamu dari mana? Kenalin dulu nih temen aku,”

Mendengar kalimat itu, hati ini seketika hancur berkeping-keping. Kemudian semua pertanyaan muncul dalam pikiran: Mereka pacaran? Itu kenapa ngomongnya aku-kamu? Dia itu siapa?

Semua pertanyaan selama ini tentang Senja terjawab sudah, meskipun mungkin aja mereka tidak ada apa-apa, namun hati ini sudah terlanjur retak. Tidak mau berlama-lama melihatnya, aku mengajak temanku pulang, dia menolak karena pesanannya belum datang. Aku terjebak dalam situasi tidak nyaman sore itu. Sore dimana ketika senja sedang merona begitu indahnya, namun bukan untukku, tapi untuk orang lain.

3 thoughts on “Sepotong Senja dan Hati Yang Retak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s