Berawal dari mimpi kemudian datang lalu hilang


foto: Nida

foto: Nida

Menunggu merupakan perkara melapangkan kesabaran dan berhadapan dengan risiko ketidakpastian, ketidakhadiran.

Aku rindu lelaki itu. Lelaki yang membuatku ikhlas menjadi seorang penanti dan penunggu. Menjadi seseorang yang membuang waktu sekedar untuk menunggu. Menghabiskan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun hanya untuk menyambut kedatangan. Untuk mendengar

“Hai, aku pulang.”

Namun tak pernah datang.

Terakhir kali aku melihatnya di taman kota dalam sebuah event tahunan. Saat bersamaan aku melihat banyak orang dengan wajah bahagia karena berhasil menyelesaikan perlombaan. Kontras dengan suasana hatiku yang bimbang, antara senang ataupun sendu. Mungkin aku hanya mendramatisir suasana saat itu.

Hari itu menjadi terakhir kali aku melihatnya, dia tidak pernah pulang lagi.

Suatu hari aku merasa lelah menanti,

menunggu yang tidak pasti,

hingga akhirnya beralih hati.

Hingga aku menyadari

jika ku tlah jatuh hati

kepada seorang lelaki

yang terlihat baik hati

Buku diary ku sudah mulai menipis, semenjak menjadi seorang penanti aku selalu menulis, menceritakan segala yang ku rasa, ku inginkan untuk lelaki itu. Berharap tiap lembaran ceritaku dilihat Tuhan dan disampaikan kepadanya. Bahwa aku sangat rindu. Meski dihadapkan dengan orang lain, yang terlihat baik hati, jauh di lubuk hati aku masih menyimpan rasaku untuk lelaki ku. Masih. Hingga kini.

Semua berlalu begitu cepat, bertahun-tahun aku mulai merasa penantian ini percuma, hingga aku benar-benar menghapus memori tentangnya. Berhasil.

Aku memiliki kesibukan baru yang menguras waktu. Hujan turun dengan lebat ketika aku pulang, ada seorang teman menghampiriku dan hanya mengatakan, “dia sudah pulang.”

Aku menurunkan payung dari genggaman. Menghela napas dan melemparkan pandangan lebih jauh. Semua memori tentangnya tiba-tiba berputar kembali di kepala, berawal dari pertemuan pertama kami hingga pertemuan terakhir. Aku masih terdiam kemudian manarik napas cukup dalam sehingga bahuku yang kecil terangkat. Aku melumat beberapa menit waktu dalam heningnya, sebelum akhirnya aku menyadarkan diri ketika air hujan mengguyurku dengan lekas.

Tanpa pikir panjang aku bergegas pulang, banyak sekali pertanyaan di kepala, bahkan bagaimana bisa aku percaya dengan perkataan temanku yang merupakan tipe jahil… Apa artinya aku masih menanti kepulangannya?

Sampai di depan rumah, aku menemukan sebuah mobil hitam parkir. Kembali ku hela nafas panjang hingga aku mendengar suara tawa mama dengan lelaki. Bukan, itu bukan suara abangku ataupun adik lelakiku.

Saat ku buka pintu… dia… dia yang ku tunggu bertahun-tahun ada di hadapanku, sedang berbincang dengan mama. Begitu hangat suasananya.

Semburat jingga matahari yang merambat turun bercampur dengan serat-serat putih awan cirrus dan menjadi pemandangan yang luar biasa. Seperti lukisan alam di hamparan langit biru tua. Dia… dia pulang.

Tak kuasa ku menahan air mata di pelupuk yang kemudian mengalir membasahi pipi melihat lelaki itu berada di hadapanku. Dia menoleh kearahku, menyadari keberadaanku ia menghampiri dengan raut wajah yang senang telah pulang dan mengatakan.

“Hai, aku pulang :)”

Dia memeluk begitu erat sambil menjelaskan alasan dia pergi selama ini padaku. Kemeja flanel biru-hitam yang dipakainya pun

basah karena air mataku yang tak terbendung. Tanpa kata-kata. Aku menangis di pelukannya. Ingin ku katakan, aku rindu. Sangat rindu.

Ku coba membuka mata yang mulai membengkak karena air mata, ingin menatap wajah lelaki yang membuatku merasa sia-sia telah menunggunya. Aku tak ingin dia pergi lagi, tidak ingin. Mataku mulai terbuka masih dengan air mata, namun tidak ada dia dihadapanku. Mataku langsung melempar pandangan jauh disekitar, mencari sosok lelaki bertubuh tegap, berwajah teduh, memakai topi, berkulit sawo matang. tapi aku disadarkan oleh sebuah panggilan di handphone, ternyata aku hanya mimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata. Tuhan, aku rindu. Jaga dia sebaik mungkin. Aku sangat rindu.

4 thoughts on “Berawal dari mimpi kemudian datang lalu hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s