Berawal dari mimpi kemudian datang lalu hilang

foto: Nida

foto: Nida

Menunggu merupakan perkaraĀ melapangkan kesabaran dan berhadapan dengan risiko ketidakpastian, ketidakhadiran.

Aku rindu lelaki itu. Lelaki yang membuatku ikhlas menjadi seorang penanti dan penunggu. Menjadi seseorang yang membuang waktu sekedar untuk menunggu. Menghabiskan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun hanya untuk menyambut kedatangan. Untuk mendengar

“Hai, aku pulang.”

Namun tak pernah datang.

Continue reading

Tahun Baru, Semester Baru, Masalah Baru

Foto: Nida Sahara

Foto: Nida Sahara

Selamat hari Jum’at, dan ternyata kalender udah berganti tahun ya. Maaf banget 2 bulanan ini ga ngeblog karna sebenernya pengen banget, tapi karna kebanyakan kerjaan jadinya males (ini alibi aja sih).

Btw gue seneng banget hari ini, karena ketika gue buka blog dan gue mendapatkan banyak sekali komen-komen dari kalian yang entah bagaimana bisa membuat gue tersenyum membacanya, bahkan ada yang bikin ngakak. Karena udah lama ga buka blog, kemudian sekalinya buka ada banyak komen yang entah itu pada curhat, nanya, atau bahkan ngecengin gue, itu merupakan feedback baik buat gue. Sekali lagi makasih ada aja orang nyasar kemarišŸ˜€

Continue reading

Review Film Raditya Dika “SINGLE”

film single
Akhirnya………. itu adalah kata pertama yang gue ucapkan ketika bisa kembali menulis di blog ini.
Baru-baru ini bisa juga nyempetin nonton film abang gue ‘Raditya Dika’ (iyain aja) setelah nunggu rilisnya film SINGLE, dan aseli kalian yang nonton akan sangat terhibur, dan melupakan sejenak masalah kalian. Seperti gue yang ingin melupakan revisi Seminar untuk sesaat. Karena gue nggak single, makanya gue nonton sama pacar temenĀ gue. Jadi ‘nggak harus single buat nonton SINGLE’ kok.

Tenang saudara-saudara, gue nggak akan SPOILER banyak kok. Continue reading

Dalam Semes(ter)sulit

Terkadang selalu menjadi pendengar itu membosankan, selalu menyediakan telinga untuk dimasukan berbagai cerita dari orang-orang. Sekarang, dalam situasi yang aku anggap sulit ingin menceritakan kepada kalian. Aku.. aku merasa lelah, semua terjadi berurutan dan terus berputar di kepala, semua ingin cepat diselesaikan. Tapi kenapa membantu orang lain itu lebih mudah? dibandingkan dengan mengurusi kepentingan diriku sendiri yang menurutku sulit sekali. Ada saja yang membuat penyakit dalamku kumat, pikiran adalah penyebab utama dari semua penyakitku.

Awal semester tujuh ini dirasa tidak bersahabat, yang aku takuti cuma satu, gila. Memang terdengar konyol dan berlebihan, tapi aku sudah berada jauh dari zona nyamanku, dan terkadang ingin kembali dalam zona itu. Sulit sekali rasanya, ingin ceritapun tidak tau mulai dari mana. Salah memang jika aku sudah menganggap “sulit” sebelum mencoba, tapi entah kenapa hati, otak dan fisik tidak bisa kerjasama hingga saat ini. Lebih sering tumbang membuat banyak pekerjaan menjadi menumpuk, aku adalah orang dengan tipe mengerjakan sesuatu hal dengan adrenalin, misalnya ketika deadline. Besok dikumpulkan, malam ini baru dikerjakan, atau bahkan besok pagi-pagi baru mengerjakan. Buatku itu adalah hal yang menguji adrenalin, jelas aja kalau tidak bisa cepat yaudah, selesai udah.

Harapan semester ini tidak muluk-muluk, hanya ingin lulus dengan nilai yang baik sesuai dengan perjuangannya, kemudian dapat melanjutkan skripsi semester depan. Amiin

Sesekali curhat di blog sendiri gapapa kan ya? udah sangat bingung mau melampiaskan kemana lagišŸ˜¦

Sepotong Senja dan Hati Yang Retak

Ā senja nidasFoto: Nida Sahara


Rabu lalu, senja merona begitu merahnya, aku lihat dari luar jendela ada tiga orang yang duduk di kursi tempatku biasa duduk. Kali ini aku masuk kedai kopi berdua dengan teman, tidak biasanya kali ini dia yang mengajakku. Karna ada yang menempati tempat favoritku di dekat jendela, aku tak bisa melihat senja yang sedang merona, menggoda semua yang melihatnya.

Entah kenapa aku fokus ke arah orang-orang yang duduk di dekat jendela. Tidak lama siluet seseorang yang familiar perlahan masuk, terlihat sedang mencari sesuatu. Ketika mataku mencari fokus ke wajahnya, dia.. Senja. Aku beberapa minggu ini sering sekali melihatnya, bukan sengaja melihatnya tapi seperti dia yang tiba-tiba hadir di hadapan. Degup jantung ini seketika mempercepat kerjanya. Mata seakan enggan untuk berkedip, tetap melihatnya.

Continue reading